Archive for June, 2009
Asma ‘ul husna
oleh ibrahim pada Jun.30, 2009, di General
Segala puji-pujian bagi Allah Tuhan semesta sekalian alam. Marilah kita menghayati nama-nama Allah yang maha indah melalui zikir Asma ‘ul husna beserta dengan maksudnya di video klip berikut.
Ya Allah Ya Rohman Ya Roheem
oleh sifumirza pada Jun.30, 2009, di General
Segala Puji-pujian ke hazrat Allah S.W.T
Selawat & Salam ke atas Junjungan Besar Rasulullah S.A.W
Salam buat semua yang hadir di sini..
Alhamdulillah.. Di atas keizinanNya..kita dapat hadir di sini bersama-sama berkongsi ilmu pengetahuan milik Allah serta memenafaatkan apa yang ada atas kehendakNya.
Pada saat dan ketika ini, perjalanan Baitulummah telah menghampiri ke garis penamat untuk Fasa Pertama. Fasa pertama yang saya maksudkan ialah penyediaan infrastruktur-infrasturktur asas yang diperlukan bagi perjalanan sesebuah organisasi.
Syukur kehazrat Allah, dengan kehadiran sahabat-sahabat yang sama-sama mengembeling keringat serta bersengkang mata serta membanting tulang hatta memecah minda..Baitulummah kini boleh melangkah kehadapan dengan penuh keyakinan…insya Allah.
Saya juga ingin menjemput anda semua untuk bersama-sama Baitulummah dalam perjalanan ini..biar ‘bersama’ anda itu dalam bentuk memeriahkan forum..ianya adalah satu sumbangan besar dan bermakna bagi kami…
Mudah-mudahan usaha kita ini dipermudahkan oleh Allah..walaupun kita semua sedar, kitalah manusia yang paling berdosa di atas muka bumi ini… namun pengharapan untuk mendapat tempat sebagai hambaNya yang diterima segala ibadah serta taubat sebagaimana yang dikehendaki olehNya hendaklah ada di dalam hati ini…
Ya Allah Ya Rohman Ya Raheem…
Hambamu ini pasrah debu cintaMu..
wasalam
Penulisan Al-Quran dan pengumpulannya
oleh ibrahim pada Jun.25, 2009, di Activities, Community
Sebagaimana yang telah dibincangkan dalam kelas mengaji di Baitulummah pada 24 June 09 (1 Rejab 1430 Hijrah), berikut sejarah ringkas penulisan Al-Quran yang mengalami tiga tahap penting di zaman Rasulullah SAW dan Khalifah Ar-Rasyidin.
TAHAP PERTAMA.
Zaman Nabi Muhammad SAW. Pada tahap ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat disamping sedikitnya orang yang mampu membaca tulisan dan saranannya. Oleh karena itu siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghafal Al-Quran ketika itu sangat ramai
Dalam kitab Shahih Bukhari, dari Anas Ibn Malik Radhiyallahu ‘anhu (RA) bahwasanya Rasulullah SAW mengutus 70 orang yang disebut Al-Qurra’. Mereka dihadang dan dibunuh oleh penduduk dua desa dari suku Bani Sulaim ; Ri’l dan Dzakwan berhampiran dengan sumur Ma’unah. Namun dikalangan para sahabat selain mereka masih banyak para penghafal Al-Quran, seperti Khulafa’ ur Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud, Salim bekas hamba Abu Hudzaifah, Ubay Ibn Ka’ab, Mu’adz Ibn Jabal, Zaid Ibn Tsabit dan Abu Darda Radhiyallahu ‘anhum.
TAHAP KEDUA
Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tahun 12 Hijrah. Penyebabnya adalah pada peperangan Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra’ yang terbunuh, di antaranya Salim bekas hamba Abu Hudzaifah, salah seorang yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengambil pelajaran Al-Quran darinya.
Maka Abu Bakar RA memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Quran agar tidak hilang. Dalam kitab Shahih Bukahri disebutkan, bahwa Umar Ibn Khatthab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar RA setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mahu melakukannya karena takut berdosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit RA. Disamping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah SAW, maka sekarang carilah Al-Quran dan kumpulkanlah!”, Zaid berkata “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang.
Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian dipegang pula oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah binti Umar RA. Diriwayatkan oleh Bukhari secara panjang lebar.
Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai kebaikan dan keutamaan bagi Abu Bakar, sehingga Ali Ibn Abi Thalib RA mengatakan “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Quran adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah.
TAHAP KETIGA
Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan RA pada tahun 20 Hijrah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur’an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Hal itu dikhuatiri akan menjadi fitnah, maka Utsman RA memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah dan akhirnya berpecah belah.
Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman RA datang menghadap Utsman Ibn Affan RA dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khuatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Quran, dia menyatakan “Wahai Amirul Mukminin, selamtakanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah RA, “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.
Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibn Ash dan Abdurrahman Ibn Harits Ibn Hisyam RA untuk menuliskannya kembali dan memperbanyakannya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari kaum Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.
Utsman RA melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali RA bahawasanya dia mengatakan “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Quran selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab,“Alangkah baiknya pendapatmu itu”.
Mush’ab Ibn Sa’ad mengatakan : “Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakar mushaf-mushaf yang ada, mereka pun keheranan melihatnya”, atau dia katakan “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai yang baik bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan RA yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya. Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan ketika zaman Khalifah Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Siddiq RA.
Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Utsman dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar RA ialah, tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf agar tidak tercicir dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf. Hal itu dikarenakan beliau melihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf Al-Quran sahaja.
Sedangkan tujuan dari pengumpulan Al-Quran di zaman Utsman RA adalah untuk mengumpul dan menulis Al-Quran dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf Al-Quran karena timbulnya pengaruh yang mengkhuatirkan pada perbedaan dialek bacaan Al-Qur’an.
Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudharat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan.
Mushaf Al-Qur’an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara Mutawatir. Dipelajari oleh anak-anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta sekalian alam.
[Dipetik dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy]
Amalan Bulan Rejab
oleh Kamal Arif Maz pada Jun.24, 2009, di Activities
1hb Rejab 1430 hijrah jatuh pada 24 Jun 2009 iaitu pada hari Rabu. Jatuhnya adalah pada Maghrib 23 Jun 2009 iaitu pada hari Selasa.
Sabda Nabi saw “Bulan Rejab Bulan Allah, Bulan Sya’aban bulanku & bulan Ramadhan bulan umatku“. Kemuliaan Rejab dengan malam ISRAK MIKRAJnya, Sya’aban dengan malam NISFUnya Ramadhan dengan LAILATUL-QADARnya. REJAB bulan menabur benih. SYA’ABAN bulan menyiram tanaman. RAMADHAN bulan menuai. REJAB menyucikan badannya. SYA’ABAN menyucikan hatinya. RAMADHAN menyucikan rohnya. REJAB bulan taubat. SYA’ABAN bulan muhibbah. RAMADHAN dilimpahi pahala amalan.
Dari segi bahasa : Rejab makna menghormati dan memuliakan.
Dinamakan bulan Rejab kerana orang-orang jahiliyah dahulu menghormati dan memuliakan bulan ini dengan mengharamkan peperangan dalam bulan ini.
Bulan Rejab merupakan salah satu bulan dari 12 bulan-bulan Islam dan ia merupakan salah satu dari 4 bulan ‘Haram’ didalam Islam. Dalilnya terdapat di dalam Firmah Allah swt di dalam Surah Al-Taubah ayat 9 maksudnya : “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati” . Allah swt telah mengurniakan kepada manusia 4 bulan haram. Bulan-bulan ini sebagaimana yg disepakati oleh semua ulama’ ialah Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rejab. Umat Islam adalah diharamkan pergi berperang didalam bulan-bulan ini, kecualilah jika mereka diugut.
Bulan Rejab mengandungi peristiwa-peristiwa bersejarah kepada orang Islam di mana berlakunya peperangan Tabuk, pembebasan Al-Aqsa dari tangan tentera Salib dan juga ada orang Islam yang berpendapat bahawa bulan inilah berlakunya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Secara ringkasnya, Israk dan Mikraj adalah sebuah peristiwa di mana Nabi Muhammad S.A.W telah di”israk”kan (dibawa berjalan) dari Kota Mekah ke Baitul Muqaddis serta di”mikraj”kan (dibawa naik ke atas) ke Sidratul Muntaha untuk mengadap Allah S.W.T di mana Solat 5 waktu telah difardukan ke atas umat Islam melalui Rasulullah S.A.W. Semuanya berlaku di dalam satu malam sahaja. Firman Allah SWT:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” - Petikan dari Surah Al Israa ayat 1.
Kami di Baitulummah ingin mengajak pembaca dan umat Islam seluruhnya menyambut bulan ini dengan memperbaharui tekad dan ikrar. Jika sebelum ini kita mengucap Dua Kalimah Syahadah tapi hidup dengan penuh hasad, kemarahan, dendam, benci dan sebagainya, tahun ini kita mengucap Dua Kalimah Syahadah dengan penuh kecintaan kepada Allah. Sebagai hambaNya, yang benar-benar cintakanNya, marilah sama-sama kita memperbanyakkan memuji-muji Allah, amalan dan ibadah.
Perjalanan Majlis sambutan awal Bulan Rejab berikut adalah sebagai panduan majlis yang dibuat bersama keluarga di rumah dan boleh ditokok tambah mengikut kesesuaian (contohnya jumlah zikir boleh ditambah atau dikurangkan ataupun memasukkan zikir lain yang ingin dibawa sekali):
- Solat Maghrib berjemaah bersama keluarga (sebaik-baiknya, dilakukan apabila telah masuk waktu maghrib 1 Rejab)
- Membaca Fatihah 7X
- Membaca Salawat 7X
- Membaca Al-Kafirun 1X
- Membaca Al-Falaq 1X
- Membaca An-Nas 1X
- Membaca Al-Ikhlas 1X
- Membaca Ayat Qursi 1X
- Zikir istighfar 7X – ASTAGHFIRULLAH AL-AZEEM ALLAZI LAILAHAILLA HUALHAYYUL QAYYUM WA ATUBUILAIH
- Zikir - Allah Allah 7X
- Zikir - Allahu Allah 7X
- Zikir - Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim 7X
- Zikir - Allahu Allahu 7X
- Zikir Salawat 7X – SALLALLAH ALA MUHAMMAD, SALLALLAH ALAI WASALLAM
- Zikir LAILAHAILLALLAH 101X
- Doa “Ya Allah Ya Tuhan kami, izinkanlah kami menyambut Bulan Rejab ini sebagai bulan yang Engkau muliakan, sebagaimana Rasulullah SAW menyambutnya. Berkatilah dan rahmatilah kami supaya kami menjadi hambaMu yang menghamba-abdikan diri kami kepadaMu, tunduk dan sujud kepadaMu, sebagaimana yang engkau kehendaki” – Seterusnya sambung dengan doa masing-masing
- Majlis makan malam bersama keluarga.
Jikalau berkemampuan, buatlah amalan di atas setiap hari. Jika tiada kemampuan, buatlah seminggu sekali atau dua kali. Paling tidak pun sekali. Insyaallah, moga-moga kita tergolong dikalangan orang-orang yang mencintai Allah.