Selamat Datang di Website Resmi Yayasan Baitul Ummah Madani

Bismillah sebagai Spirit Kesempurnaan

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan (menyebut) Asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Basmalah atau Bismillah adalah istilah bagi bacaan “Bismillahirrahmanir-rahim” yang biasanya diterjemahkan “Dengan Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Membaca Basmalah pada setiap memulai aktifitas kehidupan merupakan pernyataan bahwa aktifitas yang akan dilakukan itu meng-atasnama-kan Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang. Ketika seseorang membaca basmalah saat memulai membaca misalnya, maka berarti ia menyatakan bahwa aktifitas membaca itu dilakukan atas nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Ketika Anda membaca Basmalah saat mulai bekerja, berarti anda menyatakan bahwa pekerjaaan yang anda lakukan itu atas nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Pendek kata bahwa ketika seseorang memulai aktifitasnya dengan Basmalah berarti aktifitas yang ia lakukan itu bukan atas nama dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan atas nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. 

“Segala aktifitas kehidupan yang baik, yang tidak diawali dengan bismillahirramanirrahim adalah tidak sempurna”.
 (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW membimbing kita dengan sabda dan nasehatnya, “Segala aktifitas kehidupan yang baik, yang tidak diawali dengan Bismillahirramanirrahim tidak sempurna”. (HR. Abu Dawud). Memulai aktifitas kehidupan dengan Bismillah, katakanlah ketika memulai bekerja, maka ungkapan Bismillah itu sesunguhnya merupakan deklarasi “niat terbaik” bagi pekerjaan yang akan ia lakukan. Membaca Bismillah di awal pekerjaan itu bermakna mengobarkan semangat akan melakukan pekerjaan yang ia niatkan itu dengan cara-cara pelaksanaan kerja terbaik. Membaca Bismillah ketika memulai pekerjaan juga bermakna deklarasi komitmen untuk memberikan hasil terbaik dari pekerjaan yang ia lakukan itu. 

“Memulai aktifitas kehidupan dengan Bismillah, katakanlah ketika memulai bekerja, maka ungkapan Bismillah itu sesunguhnya merupakan deklarasi “niat terbaik” bagi pekerjaan yang akan ia lakukan. Membaca Bismillah di awal pekerjaan itu bermakna mengobarkan semangat akan melakukan pekerjaan yang ia niatkan itu dengan cara-cara pelaksanaan kerja terbaik.” 

Inilah makna “Spirit Kesempurnaan Bismillah” yang terkandung di dalam sabda Rasulullah SAW tersebut sebagai pemenuhan sebuah idealisme tertinggi seseorang yang harus menjamin bahwa segala aktifitas hidupnya adalah “persembahan ibadah” kepada Allah SWT. 

Allah Rabbul ‘Alamin itu Maha Baik dan berhak hanya berkenan menerima yang terbaik dari ibadah seluruh makhluk. Tidak mungkin Rasulullah menyatakan bahwa setiap pekerjaan yang tidak diawali dengan basmalah akan cacat (tidak sempurna), jika basmalah ini tidak mengandung spirit kesempurnaan. Membaca basmalah pada setiap kali akan melakukan aktifitas merupakan spirit “menjadikan Allah sebagai pangkal tolak bagi aktifitas yang dilakukan”. Spirit inilah yang akan menjadikan nilai tambah sebuah pekerjaan; pekerja, pekerjaan dan hasilnya.

Spirit menjadikan Allah sebagai pangkal tolak bekerja akan melahirkan tekad bagi seorang pekerja untuk senantiasa memenuhi ketentuan-ketentuan Allah. Tekad ini lahir karena tertanamnya kesadaran hati “aku mengerjakan ini adalah atas nama Allah, maka aku tidak boleh melanggar ketentuan-ketentuan Allah yang berkaitan dengan pekerjaan ini”. Kesadaran di hati seorang pekerja ketika membaca Basmalah bahwa dengan membaca basmalah berarti pekerjaan yang dilakukan itu atas nama Allah, akan melahirkan tekad di hati: “Pekerjaan ini harus saya lakukan dengan sebaik-baiknya, karena Allah yang aku ‘atas-namai’ dalam pekerjaan ini Maha Baik. Tidak layak bekerja mengatas- namakan Allah yang Maha Baik dan Maha Sempurna itu dengan cara pengerjaan yang seadanya”. 
Jika spirit kerja dari basmalah dapat tertanam pada seorang pekerja, maka pada saatnya akan membuahkan hasil kerja secara maksimal. Dengan demikian pekerjaan itu menjadi sempurna dari aspek nilai ibadah maupun hasil fisiknya.

Jika spirit kerja dari basmalah dapat tertanam pada seorang pekerja, maka pada saatnya akan membuahkan hasil kerja maksimal. Dengan demikian pekerjaan itu menjadi sempurna dari aspek nilai ibadah maupun hasil fisiknya.

Membaca bismillahirrahmanirrahim di awal pekerjaan juga bernilai tarbiyatun nafsi (melatih jiwa) tawadlu’ bagi seorang pekerja.

Membaca bismillahirrahmanirrahim di awal pekerjaan juga bernilai tarbiyatun nafsi (melatih jiwa) tawadlu bagi seorang pekerja. Dengan membaca basmalah ketika mengawali pekerjaan, maka yang harus terlintas di benak seorang pekerja adalah “Saya bisa melakukan pekerjaan ini hanya semata-mata karena bersama Allah, saya pasti tidak akan mampu melakukan pekerjaan ini jika tidak bersama Allah”. Spirit ini akan melahirkan sekurang-kurangnya dua hal; Pertama, semangat tinggi dalam diri pekerja karena ia merasa disertai keagungan Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, sehingga muncul optimisme bahwa pekerjaan yang dilakukan akan membawa hasil maksimal. Kedua, akan lahir sikap tawadlu dan terhindar dari sikap sombong karena dalam hatinya juga menghujam kesadaran “Jangankan melakukan pekerjaan ini, diriku sendiripun tidak akan pernah ada, jika Allah tidak menghendakinya. Tidak layak aku berbangga diri karena kemampuan melakukan pekerjaan ini, dan tidak patut pula menepuk dada dengan keberhasilan yang spektakuler nanti, karena di atas segalanya faktor Allah lebih menentukan dan bukan faktor kemampuanku”. [***]

Membaca bismillahirrahmanirrahim di awal pekerjaan juga mempunyai nilai permohonan kepada Allah agar pekerjaan yang akan dilakukan itu bermakna lebih tinggi lagi. Pemberian nama terhadap sesuatu, misalnya sebuah jalan diberi nama “Jalan KH. Wahid Hasyim”, biasanya dimaksudkan agar nama itu abadi. Maka, dengan menyebut asma Allah ketika mengawali pekerjaan mengandung harapan agar pekerjaan itu abadi di sisi Allah hingga hari pembalasan.

Penting artinya bagi manusia untuk mampu memetik hasil dari setiap jerih payah, amal dan karyanya ketika di dunia, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa nilai amal dan karya itu juga bermakna baginya ketika kelak kembali ke alam baqa. Tidak sedikit orang melakukan berbagai pekerjaan, tetapi pekerjaan itu tidak bermanfaat bagi diri dan masyarakatnya, apalagi di alam baqa nanti, sebagaimana Allah telah berfirman: “Aku hadapi pekerjaan-pekerjaan mereka yang baik-baik itu kemudian Aku jadikan seperti debu yang beterbangan sia-sianya tanpa ada bekas apa-apa.” (QS. Al-Furqon [25] : 23). 

Di samping sebagai spirit kesempurnaan bekerja, membaca bismillahirrahmanirrahim di awal pekerjaan sebenarnya juga merupakan ungkapan doa. Hanya saja sering kurang tersadari oleh pembacanya bahwa ucapan basmalah itu sebenarnya merupakan doa, sehingga ketika membaca basmalah tidak sedikit yang terkesan sambil lalu. Sangat mungkin terjadi pembacaan basmalah ketika mengawali suatu pekerjaan itu karena kebiasaan. Mungkin karena seringnya seseorang membaca basmalah di awal suatu pekerjaan, sehingga bacaan itu terjadi secara otomatis begitu saja tanpa ada ekspresi dan kesadaran bahwa ketika itu Pembaca bismillah sesungguhnya sedang berdoa. Jika yang terjadi demikian, berarti seseorang yang membaca basmalah itu hanya konsentrasi terhadap pekerjaan yang sedang dihadapi, sementara hati dan pikirannya kosong dari esensi makna basmalah yang dibaca. Padahal yang ideal adalah fisik dan intelektualitasnya terfokus pada pekerjaan disertai mata hati yang senantiasa terhubung dengan Allah rabbul ‘alamin, Sang Pemberi Kehidupan.

Spirit basmalah yang tertanam di hati akan menyempurnakan sebuah pekerjaan; sebagai ibadah akan bernilai abadi di sisi Allah yang akan dinikmati hasilnya kelak di alam baqa, hasil kerja yang maksimal tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia. 
Bacaan basmalah di awal pekerjaan merupakan ungkapan doa, maka seseorang yang membaca basmalah hendaknya sadar hatinya bahwa ketika itu ia sedang berdoa. 

Kesimpulannya, membaca basmalah ketika mengawali sebuah aktifitas bukan sekadar bacaan tanpa makna, tetapi basmalah pada awal pekerjaan itu merupakan spirit amal (kerja) dan ungkapan doa. Membaca basmalah di awal pekerjaan berarti menjadikan Allah sebagai pangkal tolak bagi pekerjaan yang dilakukan. 

Spirit menjadikan Allah sebagai pangkal tolak bagi pekerjaan yang dilakukan akan melahirkan tekad di hati seorang pekerja; ia akan memenuhi ketentuan-ketentuan Allah dalam bekerja dan akan melakukan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Spirit menjadikan Allah sebagai pangkal tolak bagi pekerjaan akan membuahkan hasil kerja yang terbaik. Spirit basmalah yang tertanam di hati akan menjadikan kesempurnaan sebuah pekerjaan; sebagai ibadah akan bernilai abadi di sisi Allah yang akan dinikmati hasilnya kelak di alam Baqa dan hasil kerja yang maksimal tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia. Bacaan basmalah di awal pekerjaan merupakan ungkapan doa, maka seseorang yang membaca basmalah hendaknya sadar hatinya bahwa ketika itu ia sedang berdoa. Kesadaran hati seperti inilah yang akan menjadikan segala harapan yang terlintas di benak seseorang yang membaca basmalah itu lebih mungkin untuk didengar, diijabah dan diridlai Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. 
Wallahu a’lam bish shawab. [***]